Rabu, 07 Mei 2008

Normal Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka di tetapkan oleh the Wound Healing Society (WHS) sebagai
“proses yang komplek dan dinamis dimana hasilnya adalah perbaikan fungsi continuitas”.

Penyembuhan luka dari sejak dulu diakui sebagai proses yang dinamis dan rumit.. penyembuhan luka adalah proses kejadian yang bertahap, dimulai dengan injury jaringan. Menejemen luka yang tepat tergantung pada pengetahuan tentang proses perbaikan luka, factor – factor yang mempengarui proses ini dan tindakan yang mempunyai dampak positif maupun negative pada hasilnya. Perjalanan penyembuhan sebagai seri dari fase yang saling bertautan.

Ada 4 fase penyembuhan luka normal:

1. ResponVascular (Hemostasis)

Vasoconstriksi dalam beberapa detik setelah injury tanpa memperhatikan sumber injury, pembuluh darah melakukan constriksi untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi exposure bakteri, dan kelompok platelets ( trombosit ) pada daerah injuri membentuk “clot”
“Clot” terbentuk oleh perubahan dari thrombin menjadi fibrinogen yang kemudian menjadi fibrin. Penyembuhan luka mulai beberapa menit setelah terjadi kerusakan jaringan1.
(Black & Matassarin-Jacobs, 1997; Silver, 1994)

2. Respon Inflammatory (Inflammation)

Ini adalah sistem pertahanan tubuh yang paling awal dalam melawan serangan mikroba.

Neutrophils adalah sel darah putih pertama dan terbanyak yang menuju daerah injury. Tugas mereka bersama makrofag dalam mempertahankan serangan bakteri adalah dengan menelan/memakan agen

Monocytes dan makrofag adalah sel darah putih berikutnya yang akan muncul di daerah injury ( biasanya sekitar 4 hari ).Monocytes dapat memakan benda asing dalam waktu lama. Makrofag adalah sel kritis dalam penyembuhan luka, karena mereka adalah Angiogenesis factor rahasia (AGF). AGF menstimulasi pembentukan dari pembuluh darah. Penyembuhan luka akan mengalami kegagalan yang signifikan tanpa makrofag.

Leukocytes dan makrofag bertugas memfagosit ( menelan ) protein asing yang dikenali atau jaringan yang rusak, mengikatnya, menelannya, dan menghancurkannya. Membrane sel terganggu oleh hasil kimia yang dihasilkan pada penyembuhan luka, yang hasilnya akan muncul edema.
Ada mediator lain dari proses inflamasi – pada respon inflammatory- yaitu mast sel, system kinin, radical bebas, dan system complement.
Keruskan salah satu darinya dapat menurunkan jumlah fagosit sel dan memperlambat proses inflammatory yang menyebabkan seseorang rentan terhadap infeksi1.
(Black & Matassarin-Jacobs, 1997; Silver, 1994)

3. Fase Proliferative (Granulasi, Epithelialisasi) ( fase pertumbuhan aktif )

Fase ini terdiri dari penyimpanan collagen yang berlebihan, angiogenesis, granulasi, perkembangan jaringan, dan kontraksi luka.
Collagen adalah konstruksi rahasia penghubung jaringan. Vitamin C, zinc,
oxygen dan besi dibutuhkan untuk proses ini untuk menimbulkan granulasi.
Collagen, kapiler dan sel – sel mulai mengisi luka dengan jaringan baru. Jaringan granulasi adalah jaringan yang berwarna merah dan tidak rata, dengan permukaan yang padat.
Konstruksi luka yang baru dibentuk oleh jaringan granulasi mengisi luka bagian bawah; hal ini karena aksi dari myofibroblasts.
Epithelialisasi terjadi saat sel epithelial bermigrasi dari sekitar kulit, jaringan ini sangat rapuh, kulit mengalami pertumbuhan kembali.
Sel biasanya mulai untuk berdefferensiasi menjadi berbagai lapisan epidermis.
Epithelialisasi dapat terjadi cepat jika luka dijaga tetap basah. Jaringan parut yang awal berwarna merah terang, tebal, dan memucat bila ditekan1.
(Black & Matassarin-Jacobs, 1997; Silver, 1994)

4. Maturation Phase (Reconstruction phase)

Remodeling jaringa parut berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Jaringan parut mempunyai kekuatan 2/3 dari kekuatan regangan aslinya. Jaringan parut tidak sekuat jaringan normal, tidak mempunyai kekuatan yang penuh terhadap regangan1.
(Black & Matassarin-Jacobs, 1997; Silver, 1994)

Referece :

1 Reprinted with permission from McIsasac, C. (2000). Government of Nova Scotia, Community Care,
Evidence based wound management protocol. Nova Scotia Department of Health.

Tidak ada komentar: